Head Office PT. Solid Gold Berjangka

Jl. KH. Mansyur Kav. 126, Jakarta Pusat 10220 Telp : 021-29675088 (Hunting), Fax : 021-29675089

PT. Solid Gold Berjangka Lampung

Jl. Ahmad Yani No. 55, Tanjung Karang - Bandar Lampung 35117 Telp : 0721-255038, Fax : 0721-255027

PT. Solid Gold Berjangka Palembang

Jl. Sumpah Pemuda Blok 1 No. 7 C-E, Lorok Pakjo, Palembang 30137 Tel : 0711-363300 Fax : 0711-363613

PT. Solid Gold Berjangka Makassar

Jl. Dr. Sam Ratulangi No. 108 A-B, Makassar 90124 Telp : 0411-851010, Fax : 0411-851090

PT. Solid Gold Berjangka Semarang

Gedung Menara SUARA MERDEKA Lt. 3. Jl. Pandanaran No. 30 Semarang 50134 Telp : 024-3583979, 3583980 Fax : 024-3583978

Senin, 20 April 2026

PT Solid | Dolar Turun Tiga Pekan Beruntun, Optimisme Damai Iran Dorong Risk-On

 

Harga Emas hari ini - Dolar AS melemah untuk pekan ketiga berturut-turut, sempat menghapus hampir seluruh penguatan sejak pecahnya perang Iran. Sentimen dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Iran setuju menangguhkan program nuklirnya tanpa batas waktu, serta pengumuman dari Teheran bahwa Selat Hormuz kembali dibuka, yang memperkuat ekspektasi pasar bahwa kesepakatan damai semakin dekat.

Harga minyak turun dan minat terhadap asset berisiko menguat setelah gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah di Lebanon meningkatkan peluang de-eskalasi yang lebih luas. Bloomberg Dollar Spot Index sempat turun hingga 0,6% ke level terendah sejak 27 Februari sebelum memangkas pelemahan menjadi kurang dari 0,1%. Secara kumulatif, indeks tersebut tercatat turun lebih dari 2% dalam tiga pekan terakhir.

Di pasar suku bunga, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun 7 basis poin ke 4,24%. Pricing OIS terkait The Fed kini memasukkan sekitar 15 bps potensi pelonggaran hingga pertemuan Desember, naik dari sekitar 8 bps pada penutupan Kamis, menambah tekanan pada dolar seiring ekspektasi suku bunga bergeser lebih dovish.

Pergerakan mata uang G-10 pada Jumat bervariasi. Yen Jepang dan franc Swiss mengungguli, sementara euro dan pound melemah. Dolar Australia sempat menguat hingga 0,7222 per dolar AS—tertinggi sejak Juni 2022—sebelum memangkas kenaikan. EUR/USD turun hari kedua ke 1,1769; pasangan ini sempat naik ke 1,1849 pada pagi hari di New York sebelum berbalik turun ke level terendah sesi pada sore hari.

Di Eropa, perbedaan sikap muncul terkait rencana misi pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan PM Inggris Keir Starmer menggelar pertemuan para pemimpin untuk membahas isu tersebut. EUR/GBP relatif stabil di 0,8706 di tengah tekanan politik domestik pada Starmer terkait penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk AS. USD/JPY turun 0,4% ke 158,57, sementara Gubernur BOJ Kazuo Ueda menekankan tantangan kebijakan akibat risiko inflasi dan risiko perlambatan ekonomi dari konflik Timur Tengah, tanpa memberi sinyal tegas arah suku bunga menjelang keputusan BOJ bulan ini. - PT Solid

Sumber : Newsmaker.id

Rabu, 08 April 2026

PT Solid Gold | Minyak Jatuh Terbesar 6 Tahun, Ada Apa?

 

Harga Emas hari ini - Harga minyak mentah jatuh tajam setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata dua pekan yang dinilai berpotensi menghentikan kampanye militer AS–Israel, dengan prasyarat Teheran membuka kembali Selat Hormuz. Perkembangan ini memicu aksi jual besar-besaran karena pasar mulai melepas premi risiko geopolitik yang sebelumnya terbangun saat ancaman gangguan pasokan meningkat.

Brent sempat merosot hingga 16% ke bawah US$92 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencatat penurunan terdalam dalam hampir enam tahun sebelum diperdagangkan di sekitar US$95. Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata bersyarat pada pembukaan Selat Hormuz dan memberi ruang agar kesepakatan dapat “difinalisasi”.

Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan bahwa Iran menerima proposal gencatan senjata yang diajukan Pakistan, dan menambahkan bahwa jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan selama dua minggu melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata. Israel juga disebut menyetujui gencatan senjata, menurut seorang pejabat Gedung Putih, memperkuat persepsi pasar bahwa tensi konflik akan turun dalam jangka pendek.

Selat Hormuz menjadi pusat perhatian karena jalur ini normalnya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan LNG, sehingga nyaris-penutupan sebelumnya mengguncang harga energi. Meski harga berbalik tajam, WTI masih tercatat naik hampir 50% sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Di sisi pasokan fisik, pembatasan pengiriman diperkirakan membuat lebih dari 9 juta barel per hari produksi minyak dari produsen utama Timur Tengah “terhenti” selama April berdasarkan estimasi pemerintah AS, sehingga pemulihan arus pasokan tidak otomatis terjadi hanya karena sentimen membaik.

Westpac menilai sistem fisik komoditas tidak akan cepat kembali normal. Menurut Robert Rennie, proses menyalakan kembali sumur yang dihentikan, menata ulang kru dan kapal, serta membangun kembali persediaan kilang dapat memakan waktu berbulan-bulan. Pernyataan ini menegaskan jarak antara reaksi harga yang cepat dan penyesuaian rantai pasok yang cenderung lebih lambat.

Sebelum jeda ini, pasar menghadapi eskalasi militer dan ancaman keras dari Washington menjelang tenggat yang dipasang Trump. Pada hari yang sama, pasukan AS dilaporkan menyerang lokasi di Pulau Kharg yang serupa dengan serangan bulan lalu, namun tidak menargetkan infrastruktur energi, menurut pejabat AS. Pada pembaruan harga di Singapura, Brent kontrak Juni turun sekitar 14% menjadi US$93,82 per barel, sementara WTI kontrak Mei turun sekitar 15% menjadi US$96,42 per barel, mencerminkan repricing risiko yang agresif.

5 inti poin :

- Minyak jatuh tajam setelah AS–Iran menyepakati gencatan senjata dua pekan dengan syarat pembukaan Selat Hormuz.

- Brent sempat turun hingga 16% ke bawah US$92; WTI mencatat penurunan terdalam dalam hampir enam tahun sebelum bertahan di area US$95.

- Iran menyebut jalur aman Hormuz “mungkin” dibuka selama dua minggu melalui koordinasi militer; Israel juga disebut setuju.

- Meski sentimen mereda, aspek fisik pasokan diperkirakan pulih lambat; estimasi pemerintah AS menyebut lebih dari 9 juta bph produksi Timur Tengah sempat “shut in” selama April.

- Pasar melepas premi risiko geopolitik, namun volatilitas berpotensi kembali jika implementasi gencatan senjata atau akses Hormuz terganggu. - PT Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Selasa, 07 April 2026

Solid Gold | Dolar Menguat di Tengah Risiko Inflasi dan Ketidakpastian Iran

 

Harga Emas hari ini - Indeks dolar AS (DXY) menguat pada Selasa (24/3) setelah sempat terpukul pada sesi sebelumnya, seiring arus safe-haven kembali masuk usai Iran membantah klaim diplomatik Presiden AS Donald Trump. DXY naik ke sekitar 99,42.

Di pasar valuta utama, euro melemah ke sekitar US$1,1584, sementara pound sterling turun ke US$1,3405. Yen melemah dengan USD/JPY di sekitar 158,98, tetap dekat area sensitif 159–160 yang kerap memicu peringatan intervensi dari Tokyo. Franc Swiss bertahan kuat sebagai aset lindung nilai; ketua SNB menyatakan kesiapan intervensi valas ditingkatkan untuk menahan penguatan franc. (Mengacu kurs referensi EUR/USD dan EUR/CHF, USD/CHF berada di kisaran 0,79).

Dari sisi inflasi, Nowcast Cleveland Fed memperkirakan inflasi Maret 2026 kembali menghangat, dengan CPI YoY 3,16% dan PCE YoY 3,23%, mencerminkan dorongan harga energi. Data aktivitas juga memperkuat narasi “stagflation risk”: survei S&P Global menunjukkan Composite PMI turun ke 51,4 (terendah 11 bulan), dengan manufaktur 52,4 membaik namun jasa 51,1 melemah; tekanan biaya naik (input costs tertinggi 10 bulan) dan indeks ketenagakerjaan turun di bawah 50. -  Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Kamis, 02 April 2026

Solid Gold Berjangka | Emas Turun usai Trump Kirim Sinyal Campuran soal Iran

Solid Gold Berjangka | Emas Turun usai Trump Kirim Sinyal Campuran soal Iran

Harga Emas hari ini – Harga emas melemah setelah pidato Presiden AS Donald Trump tidak memberi kejelasan mengenai penyelesaian perang di Timur Tengah. Logam mulia sempat menguat, tetapi kemudian berbalik turun ketika pasar menilai pesan Trump membuka peluang eskalasi sekaligus de-eskalasi.

Bullion turun hingga 2,3% setelah Trump menyatakan konflik yang telah berlangsung sekitar sebulan “mendekati selesai”, namun pada saat yang sama menegaskan AS akan menyerang Iran “sangat keras” dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Trump juga menyebut operasi militer hampir mencapai target, serta meminta sekutu yang bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah ikut membantu mengatasi kondisi Selat Hormuz yang nyaris tertutup.

Pergerakan lintas aset berlangsung serempak: ekuitas melemah, dolar AS menguat, dan harga minyak melonjak di tengah kekhawatiran soal arus energi melalui Selat Hormuz. Sebelum perang, jalur strategis ini menjadi rute transit sekitar seperlima minyak dunia dan LNG, sehingga gangguan berlarut membuat pasar sensitif terhadap setiap sinyal eskalasi.

Dalam situasi ini, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terlihat berkurang. Selama konflik, pola yang berulang adalah investor melepas posisi emas untuk menutup kerugian di aset lain, sehingga arus likuidasi kerap menekan harga meski ketidakpastian geopolitik meningkat.

Sejumlah analis menilai pidato Trump lebih menekankan narasi “keberhasilan militer” ketimbang sinyal gencatan senjata. Setelah reli tajam yang sempat membawa emas menyentuh area US$4.800 intraday, pasar mulai memperhitungkan momentum yang berpotensi melambat jika selera risiko menyusut akibat kekhawatiran operasi AS dapat melebar, termasuk risiko operasi darat.

Pada perdagangan Kamis pagi di Singapura, harga spot emas turun 1,2% ke US$4.703,18 per ons. Perak melemah 2,8% ke US$72,98, sementara platinum dan palladium juga turun. Di sisi lain, Bloomberg Dollar Spot Index naik sekitar 0,2%, menegaskan penguatan dolar yang turut membebani harga emas.

Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmaker.id

Rabu, 01 April 2026

PT Solid Gold | Emas Naik! Apa yang Mendorong Kenaikan Ini?

PT Solid Gold | Emas Naik! Apa yang Mendorong Kenaikan Ini?

Harga Emas hari ini – Harga emas pada sesi Asia hari ini mencatatkan lonjakan signifikan, diperdagangkan di kisaran $4537 per ounce. Kenaikan ini terutama dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat, dengan ketegangan di Selat Hormuz dan kebijakan moneter yang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar dolar AS. Situasi ini mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset aman, menciptakan permintaan yang kuat di pasar

Namun, meskipun harga emas menunjukkan tren positif, tantangan tetap ada. Kebijakan moneter ketat di beberapa negara besar, seperti Amerika Serikat, dapat menekan permintaan terhadap logam mulia ini. Dengan ketegangan politik yang terus berkembang dan prospek ekonomi yang berubah-ubah, pasar emas tetap penuh ketidakpastian, membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah harga ini akan bertahan atau justru berbalik arah.

PT Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id